Kumpulan Arsip Fragmen 3

Kumpulan Arsip Fragmen 3

Foto proses kurasi arsip F. Silaban untuk menyesuaikan posisi gambar pada bingkai dan passe-partout. Kiri ke kanan: Surat dari Proyek Lanjutan Pembangunan Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, kepada Sekretariat Negara untuk menolak permintaan melakukan melapis selasar utama (yang akan dilalui oleh Presiden Soeharto) karena pertimbangan pemeliharaan; Para pekerja mengepel lantai selasar Masjid Istiqlal setelah proses pemasangan pelapis lantai dan dinding marmer selesai, menjelang peresmian tahun 1978; Mihrab Masjid Istiqlal sesaat sebelum peresmian tahun 1978 (kedua-atas); Friedrich Silaban dan Soedarto (kepala Pelaksana Pembangunan Masjid Istiqlal) menemui Presiden Soeharto, sekitar 1970; Surat bagi Friedrich Silaban dari seorang pengagum yang tidak dicantumkan namanya, 20 Agustus 1977; Kuitansi pembayaran honorarium N.V. Silaban untuk pekerjaan pendampingan dan perencanaan proyek pembangunan Masjid Istiqlal. Sejak bergulirnya proyek pembangunan Masjid Istiqlal pada tahun 1961, pembayaran honorarium arsitek, pembuat gambar-gambar perencanaan arsitektur, insinyur sipil, serta pembuat gambar-gambar perencanaan struktur dilakukan dengan cara menetapkan nilai persentase yang sesuai dengan bobot pekerjaan masing-masing ahli. Nilai honorarium yang diterima bervariasi sesuai dengan berapapun anggaran yang dicairkan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan karena proyek pembangunan yang memakan waktu lama dan sempat mengalami masa krisis ekonomi dan inflasi yang tinggi.

Penulis / Penanggung Jawab Pameran Produksi Pusat Dokumentasi Arsitektur dan Arsitekturindonesia.org
Penerbit 14 September 2017
Tahun Terbit 2017